Kali Kedua

HIKE

16 Mei 2017 kali kedua saya melakukan pendakian ke gunung Gede. 5 orang termasuk saya, melakukan pendakian lewat jalur Gunung Putri. Jalur ini hanya berjarak 6 KM menuju Alun-alun Suryakancana.

Jarak memang tertulis 6 KM, tapi perasaan saya itu lebih dari 6 KM. Mungkin karena kondisi tubuh yang kelelahan. Kaki sudah gemetar menginjak tanah yang makin kesana makin menanjak. Hanya sedikit jalan yang datar. Sisanya tangga-tangga yang terbuat alami dari akar tanaman.

Saya dengan rekan-rekan yang lain menikmati perjalanan dengan candaan yang terjadi sebelum melakukan pendakian. Kaki terus melangkah meskipun gemetar. Banyak pendaki yang naik, ada juga yang turun.

Mang belook!! Itulah kalimat candaan yang keluar dari kelima pendaki. Kalimat Mang Belok berasal dari cerita kedua teman saya yang hendak mengambil SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).  Di angkot ada seorang anak kecil yang entah kemana tujuannya.

Baca juga Tujuan di minggu pagi warga cipanas

Tujuan anak tersebut hanya kedua teman saya yang tahu. Di Cibodas itu ada 2 jalur. Ada jalur menuju Taman Cibodas gerbang 1, dan gerbang Cibodas gerbang 2. Awalnya sang sopir angkot akan melewati jalan menuju gerbang 2. Tiba-tiba anak kecil itu bilang “Mang Belook!! “.

Dengan refleks sang sopir angkot banting setir ke kiri. Para penumpang yang ada mungkin kaget. Seorang penumpang yang duduk di depan berkata “Bae mang, bawa duit ieuh”. Sambil memegang uang pecahan 2000 rupiah, dikipas kipas pula.

“Mang Pulangan”. Kalimat itu diucapkan juga oleh anak tersebut. Uang Rp2000,00 masih minta kembalian. Maklum anak kecil. Setiap seorang diantara kami menyebut salah satu atau kedua kalinya itu, pasti yang lainnya tertawa.

Perjalanan terasa sangat lama. Kami berangkat pukul 8 pagi dan sampai pukul 2 siang. 6 jam kami berjalan di  jalur pendakian. Yang terlihat hanya pohon, Batu, dan pasir. Sesekali terdengar suara burung berkicau.

Alun-alun Timur

Sekitar jam 2 kami sampai di alun-alun Timur. Akhirnya saya bisa melepaskan carrier saya sedikit lebih lama. Kami berfoto di Padang rumput yang sangat luas. Melihat bunga abadi yakni Edelweis (Anaphalis Javanica).

Bulan ini bulan yang tepat untuk mendaki ke gunung Gede, karena Bunga Edelweis sedang mekar-mekarnya. Dari kejauhan, terlihat bungan Edelweis yang putih. Sayang, bunga itu tidak boleh dipetik.

Kami berjalan kembali ke tempat untuk mendirikan tenda. Kurang lebih 300 meter kami berjalan. Rasanya sudah ingin melepas carrier kembali. Kondisi tubuh yang sedikit kelelahan membuat kami sedikit mempercepat langkah, karena sudah tergambar akan mendirikan tenda dimana.

Hanya beberapa menit, kami sampai di tempat mendirikan tenda. Kami mendirikan tenda tidak jauh dari jalur pendakian menuju Puncak. Saat setelah mendirikan tenda, itulah waktu untuk kami beristirahat.

Tenda sudah rapi, kami semua sudah shalat, dzuhur dan Ashar. Kami semua duduk-duduk santai di depan tenda. Ada yang menggelarkan matras, “mengamparkan” sajadah, dan mengeluarkan sleepingbag.

Obrolan kami berlanjut. Tidak hanya obrolan biasa, kami pun sambil bercanda. Kala itu ada saja yang membuat tertawa. Candaan yang pecah di perjalanan pun terulang kembali di sini.

Kalimat “Komik Sunda” keluar dari salah seorang rekan saya saat kami mendengarkan lagu Surat Cinta Untuk Starla. Di awal lagu tersebut, terdapat lantunan puisi. Seorang teman saya langsung bilang “Komik Sunda? ” sembari mengambil HP, salah ambil lagi.

Yang kami tunggu saat itu adalah waktu malam. Sekitar jam 4, saya bersama 2 orang rekan lainnya membawa air yang berasal dari aliran mata air yang ada. Sangat dingin suhu air disana. Rasanya kami seperti memegang es. Kami semua masak mie instan untuk mengganjal perut.

Sekitar 30 manit dari itu, kami mengambil wudhu untuk shalat maghrib. Sembari menunggu waktu maghrib tiba, kami duduk-duduk santai kembali di depan tenda sampai waktu maghrib tiba.

Waktu malam tiba. Kami sudah shalat Maghrib dan Isya. Kami duduk-duduk santai kembali. Sangat beruntung kami melakukan camp saat itu. Cuaca saat itu cerah. Awan hanya sesekali menutup langit.

Kami ber-5 memandang ratusan Bintang. Jarang-jarang bisa melihat Bintang sebanyak ini. Suasana lebih tenang ketika kami memandang langit sembari mendengarkan lagu dari Depapepe yang berjudul Kito Matta Itsuka.

Sampai hampir pukul 9 kami duduk-duduk atau berbaring di martas atau sajadah. Suhu disana sangat dingin, jaket 2 ditambah sarung tangan dan kaos kaki belum cukup untuk menutupi rasa dingin disana.

Sekitar jam 10 kami tidur. Dan bangun kembali jam 4 pagi. Kami langsung mengambil wudhu untuk shalat shubuh, dan langsung mempersiapkan untuk Summit Attack. Kami tidak sarapan saat itu karena kompor kami rusak. Kami hanya makan makanan seadanya seperti roti yang masih tersisa.

Summit attack kami lakukan setelah semua persiapan selesai. Kurang lebih 40 menit kami sampai di Puncak Gede. Kami langsung berfoto, menulis FS, menikmati sunrise.

Rasa lelah yang sebelumnya terasa, terbayar sudah. Tidak disangka, saya bisa menginjakkan kaki di gunung Gede untuk kedua kalinya.

[su_slider source=”media: 1259,1261,1262,1263″ link=”lightbox”]

Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *