Semua ada masanya

Waktu, hal yang selalu maju. Tidak pernah mundur dan tidak akan pernah mundur. Terkadang kita ingin sekali mengulang waktu yang telah terjadi. Namun itu hal yang sangat tidak mungkin.

Sebuah cerita.

Jumat sore, 21 Juli 2017, saya pergi ke sekolah yang dimana, dulu saya pernah belajar disana. SMP Negeri 1 Cipanas, sekolah yang sudah banyak diceritakan di tulisan-tulisan sebelumnya.

Kala itu, sedang berlangsung acara Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah hari terakhir. Sengaja saya datang kesana, karena hari itu merupakan hari terakhir saya menggunakan pakaian putih biru setelah selesai melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah juga di sekolah baru saya, SMA Negeri 1 Sukaresmi.

Kala itu juga, mungkin akan menjadi hari terakhir saya dapat pulang sebelum pukul 14:00 WIB, karena di hari-hari selanjutnya saya akan pulang lebih dari pukul 14:00 WIB. Hari jumat, mungkin jam pelajaran selesai sebelum jam 14:00 WIB. Tapi setelah itu masih ada kewajiban mengikuti ekstrakurikuler kepemudaan.

Baca juga : Menghilangkan mindset yang lain juga akan telat.

Melihat anggota OSIS angkatan 56 dan sebagian perwakilan ekstrakulikuler yang menjadi panitia, mengingatkan saya pada beberapa hal.

Tahun lalu di Bulan yang sama, saya menjadi panitia Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Saya pernah berada di posisi  mereka (panitia MPLS). Membimbing siswa baru yang masih terbilang masih kekanak-kanakan, Menjadi seksi acara, dan di hari terakhir juga terdapat acara mushafahah antara siswa baru dengan panitia.

Dengan sedikit rasa malu datang kesana, yang entah kenapa rasa malu itu datang, saya tetap memaksakan untuk tetap di tempat (panggung SMP Negeri 1 Cipanas), karena ingin sekali menyaksikan acara hari terakhir Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di SMP Negeri 1 Cipanas.

Mungkin yang teman saya bilang benar. Perkataan yang membuat saya malu ketika ada disana.

“Di SMP udah gak ke anggap, di SMA belum sepenuhnya dianggap” kalimat itu yang teman saya katakan.

Dua teman lain yang ikut kesana, juga setuju dengan kalimat itu. Hal lain yang membuat malu juga mungkin karena saya dan teman-teman saya kepalanya masih minim rambut alias gundul. Saya dan teman-teman malu karena kuran percaya diri berada di depan siswa SMP.

Saya duduk di panggung sekolah. Menyaksikan siswa baru sedang bermushafahah, diiringi dengan lagu Kemesraan yang dilantunka oleh salah satu pembina OSIS. Sebenarnya saya ingin ikut bernyanyi dengannya. Tapi apa daya, malu mengalahkan semuanya. Untuk masuk ke aula (tempat bermushafahah) pun saya tidak berani.

Melihat panitia bekerja, membuat saya ingin kembali berada dalam posisi yang sama. Menjadi pembimbing, menjadi koordinator seksi acara, dan di hari terakhir bermushafahah dengan siswa baru serta panitia.

Tapi itu tidak akan terjadi sama persis 100 persen. Jika terjadi pun akan banyak yang berbeda. Beda tempat, beda rekan, beda acara. Itulah sebabnya, semua ada masanya.

Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *